Lonjakan kecelakaan kerja di sektor logistik dan transportasi Indonesia kembali menyalakan alarm industri. Dalam 12 bulan terakhir, insiden kerja di gudang, pelabuhan, dan jalur distribusi tercatat meningkat signifikan—bukan hanya memakan korban tenaga kerja, tetapi juga memicu kerugian operasional yang berdampak langsung pada kelancaran rantai pasok nasional.
Pertumbuhan sektor logistik Indonesia yang agresif, yang ditopang proyek strategis nasional, ekspansi pelabuhan, dan ledakan e-commerce, menyimpan paradoks serius. Di satu sisi, volume pergerakan barang meningkat tajam. Di sisi lain, tingkat kesiapan keselamatan kerja belum sepenuhnya mengimbangi kompleksitas lapangan.
Lingkungan kerja yang dinamis bergerak dan mobile dikenal sebagai salah satu yang paling berisiko: lantai licin, pergerakan alat berat, aktivitas bongkar muat non-stop, hingga tekanan waktu pengiriman, bahkan agar tetap elegan ketika ada pertemuan dan rapat. Dalam kondisi ini, kelalaian kecil terhadap Alat Pelindung Diri (APD) dapat berujung pada kecelakaan besar, atau mungkin tampak kurang rapid an elegan.
“Di lapangan, kami masih menemukan pekerja gudang yang menggunakan alas kaki tidak sesuai standar. Padahal risiko tertimpa barang, terpeleset, atau terinjak benda tajam sangat tinggi,” ujar seorang praktisi K3 di kawasan industri Jawa Barat, yang telah lebih dari satu dekade menangani audit keselamatan kerja.

